Sabtu, 13 April 2013

Pekerjaan, Keluarga, Kesehatan, Sahabat, dan Semangat

Tulisan kali ini masih tentang kehidupan yang mungkin bisa kita jadikan sebagai bahan renungan. Coba bayangkan apabila hidup ini seperti pemain akrobat dengan lima bola di udara. Bola - bola tersebut kita namai dengan sebutan, pekerjaan, keluarga, kesehatan, sahabat, dan semangat. Kita harus menjaga agar semua bola - bola itu tetap di udara dan jangan sampai terjatuh. Jika situasi mengharuskan kita untuk melepas salah satunya, lepaskanlah pekerjaan, karena pekerjaan adalah bola karet. Namun empat bola lainnya adalah bola kaca. Jika kita menjatuhkan bola karet, ia akan memantul dan melambung kembali, tetapi apabila kita menjatuhkan bola kaca maka akan fatal akibatnya.

Dalam hidup kita harus melakukannya secara seimbang, kita selalu mementingkan pekerjaan yang merupakan bola karet. Kita melupakan keluarga, kesehatan, sahabat maupun semangat demi menjaga bola karet tersebut.

Demi pekerjaan, kita mengabaikan keluarga. Demi meraih kesukesan dalam pekerjaan, kita jadi gila kerja sehingga tidak memperhatikan kesehatan. Bahkan demi pekerjaan, kita juga rela menghancurkan hubungan dengan sahabat yang telah lama dibangun.

Bukan berarti pekerjaan tidak penting, tetapi janganlah kita menjadi orang yang gila kerja, yang demi pekerjaan rela mengabaikan segalanya. Pekerjaan hilang masih bisa dicari, tetapi apabila keluarga kita sudah terjual, bisakah kita membelinya lagi ? bisakah kita membeli sahabat ? bisakah kita memulihkan kesehatan kita secara normal, apabila kita terkena penyakit yang parah ? 

Untuk itu jalanilah kehidupan dengan seimbang. Jangan sampai kita menyesal, karena kehilangan keluarga, sahabat, dan kesehatan demi mementingkan pekerjaan.

Jumat, 12 April 2013

Kunci sukses dalam hidup

Pada tulisan pertama saya pada blog ini, saya ingin berbagi kisah dari cerita yang pernah saya baca tentang Kunci kesuksesan dalam hidup. Cerita ini mengisahkan tentang seorang anak perempuan dan tiga orang bapak - bapak. Begini kisahnya :
Pada suatu sore, seorang anak perempuan berjalan sendiran di taman sambil menikmati pemandangan indahnya pepohonan. Ketika sedang asyik berjalan, ia melihat seorang bapak - bapak sedang duduk sambil melamun. Ia pun bertanya kepada bapak tersebut :
AP : Apa yang terjadi pada bapak ? kelihatannya bapak sedang sedih ?
BP1: Saya sedang menyesali masa lalu, saya menyesal mengapa saya tidak berusaha keras untuk saat ini.
Setelah mendapatkan jawaban, Ia pun kembali melanjutkan perjalanannya. Namun belum lama ia berjalan, ia kembali bertemu dengan seorang bapak - bapak lainnya yang sedang mondar - mandir tidak karuan seperti orang kebingungan. Ia pun menghampiri bapak tersebut dan menanyainya :
AP : Apa yang terjadi dengan bapak ? kelihatannya bapak sangat gelisah ?
BP2 : Saya sedang memikirkan masa depan, saya takut masa depan saya suram, karena sampai saat ini saya belum mempunyai bekal apa - apa.
Setelah mendengarkan jawaban dari bapak tersebut, ia pun meninggalkan bapak tersebut yang sedang mencemaskan masa depannya. Tidak lama ia berjalan, ia kembali bertemu dengan seorang bapak - bapak. Namun berbeda dengan dua orang bapak - bapak yang sebelumnya ia temui, wajah bapak ini kelihatan senang sekali, tidak terlihat kesedihan dan kegelisahan. Ia pun bingung dan menanyai bapak tersebut :
AP : Mengapa bapak kelihatannya gembira sekali, padahal bapak sedang bekerja keras ?
BP3 : Saya tidak sedang bekerja keras, tetapi saya hanya bekerja. Dan yang membuat saya gembira adalah karena apa yang saya kerjakan sesuai dengan keinginan hati saya.
AP : Sebelumnya saya telah menemui seorang bapak - bapak yang sedang menyesali masa lalunya, dan seorang lagi yang mencemaskan masa depannya. Apakah bapak tidak mempunyai masa lalu dan masa depan ?
BP3 : Detik ini akan menjadi masa lalu bagi detik berikutnya, dan detik berikutnya adalah masa depan detik ini. Maka jalanilah detik ini dengan sebaik - baiknya.
Dari cerita diatas kita dapat mengetahui bahwa kita selalu memikirkan masa lalu dan mencemaskan masa depan. Kita selalu menyesali apa yang telah terjadi di masa lalu, padahal apa yang terjadi di masa lalu tidak mungkin bisa dirubah. Hidup dalam bayangan masa lalu adalah sia - sia. Kita juga selalu mencemaskan masa depan, orang - orang yang selalu mencemaskan masa depan adalah orang - orang yang tidak percaya diri.

Untuk itu dalam menjalani kehidupan yang ideal, jangan memikirkan masa lalu dan jangan mencemasakan masa depan. Kita tidak bisa pergi ke masa lalu untuk merubah atau membatalkan apa yang telah terjadi dan juga kita tidak bisa menghindari apa yang akan terjadi dimasa yang akan datang. Sekarang atau saat ini adalah kehidupan kita yang sesungguhnya. Seperti yang dikatakan bapak - bapak yang ketiga, "Detik ini akan menjadi masa lalu bagi detik berikutnya, dan detik berikutnya adalah masa depan detik ini, maka jalanilah detik ini dengan sebaik - baiknya".

Marilah kita berusaha sebaik - baiknya untuk saat ini, karena untuk membangun kesuksesan ada pada saat ini, bukan di masa lalu atau masa depan. Kerjakanlah sesuai dengan keinginan hati, pekerjaan yang berat akan menjadi ringan apabila kita melakukannya dengan hati. Jangan menghabiskan hidup kita hanya untuk menyesali masa lalu dan mencemaskan masa depan. Menyesali masa lalu adalah kesedihan, mencemaskan masa depan adalah kegelisahan, berbuat yang terbaik untuk saat ini adalah kegembiraan. 
"Masa lalu adalah lukisan yang telah kusam
Masa depan adalah lukisan yang abstrak
Saat ini adalah lukisan yang paling nyata"